Tampilkan postingan dengan label Kisah nan Makna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah nan Makna. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Desember 2011

BERSYUKUR DALAM KEADAAN APAPUN


Berburu merupakan kebiasaan kaum bangsawan yang sudah mentradisi pada setiap negeri, pada saatu waktu seorang pangeran dari salah satu negeri yang cukup makmur hendak mengadakan perjalanan untuk melakukkan perburuan. Dikumpulkannylah beberapa prajurit untuk mengawal dan seorang penasehat pribadi yang setia pun ikutserta dalam perjalanan itu.
Esok harinya, perjalanan pun dimulai. Selepas dari gerbang istana kerajaan, rombongan harus melakukan perjalanan melalui pemukiman penduduk yang luas sehingga cukup banyak memakan waktu. Setelah tiba di ujung perkambungan barulah rombongan mulai memasuki hutan dan masuk kedalam dengan harapan akan menemukan binatang buruan. Perjalanan sudah sekian jauh memasuki hutan belantara namun belum ada satupun binatang buruan yang mereka jumpai.
Tiba-tiba terdengan suara kuda meringkik keras disertai jeritan Sang Pangeran. Seketika rombongan terhenti, Penasehat pribadi pangeran segera memeriksa apa yang terjadi. Ternyata kuda yang ditunggangi pangeran tergelincir dan terperosok ke dalam lubang. Pangeran terjaduh dan menyebabkan salah satu jari kakinya patah sehingga membuat dia cacat.
Akibat kejadian itu merekapun bergegas untuk kembali ke istana. Sepanjang perjalanan pulang sang pangeran menahan perih karena salah satu jari kakinya patah, ia mengeluh mengadu kesakitan pada penasehatnya. Sang penasehat dengan tenang menyabarkan hati pangeran, “sabarlah paduka, anda harus bersyukur karena hanya jari kaki tuan saja yang patah”. Mendengar itu murkalah sang pangeran, dan berkata “hai penasehat, nanti kalau kita sudah sampai di istana, itu pertana pengambidanmu sudah berakhir. Kamu saya pecat! Mengapa jari kaki saya patah kau suruh aku bersyukur? Dengan nada rendah penasehat menjawab, “Baiklah, hamba terima, namun sekali lagi saya sarankan agar pangeran bersyukur”.
Waktu sudah lama berlalu, dan sudah lama pula sang pangeran tidak melakukan perburuan sehingga membuatnya rindu. Maka berangkatlah pangeran untuk melakukan perburuan, tetapi kali ini pangeran tidak membawa rombongan, ia hanya didampingi penasehat pribadinya yang baru. Saat dalam perburuan, alangkah terkejutnya pangeran ketika tiba-tiba dia dan penasehat sudah dikepung oleh sekelompok suku pedalaman yang liar dan bringas yang akan menyerang dan merampas siapa saja yang ditemuinya di hutan. Pertempuran pun tak bisa dihindari dan sang pangeran serta penasehat berhasil ditawan. Suku pedalaman segera melakukan sesembahan karena telah berhasil mendapat tawanan manusia.
Maka dimulailah acara ritual sesembahan. “Siapa pangeran di antara kalian berdua?” tanya kepala suku. Dengan tegas penasehat pribadi menjawab, “Dia Pangeran”, sambil menunjuk ke arah pangeran. “Baik” ujar kepala suku, “Bawa dia ke meja persembahan! “Maka mulailah pangeran diikat di atas meja sesembahan. Tiba-tiba kepala suku kaget, karena ternyata terdapat cacat di bagian jari kaki pangeran. “Dia tidak sempurna ! Dia cacat!” teriak kepala suku. “Engkau telah berbohong”, sambil menunjuk ke arah penasehat. “Tangkap dan ikat dia dan usir orang cacat ini!”.
Inilah hikmah mengapa penasehat yang dulu menyarankan agar pangeran bersyukur. Sang pangeran pun merasa bersalah hingga ia bermaksud meminta ma’af dan mencari penasehatnya dulu agar kembali mengabdi di istana.
Dalam menghadapi berbagai hal yang menimpa kita baik suka maupun duka, kita harus pandai mengambil hikmah dan senantiasa bersyukur.

  

Rabu, 26 Oktober 2011

AIR MATA YANG TERSENYUM


Alkisah, seorang lelaki bernama Abu hasan ketika sedang thawaf bertemu dengan seorang wanita yang wajahnya bersinar dan berseri-seri, padahal ia dalam keadaan duka yang sangat mendalam.
Wanita tersebut bercerita, ketika seuaminya menyembelih seekor kambing, anak laki-lakinya yang masih kecil memperhatikannya dengan seksama. Tiba-tiba saja ia memiliki ide untuk mempraktikan apa yang dilihatnya pada adiknya. Ia pun menghampiri si adik dan berkata, “Maukah aku tunjukan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing?”. Adiknya mengiyakan serta menuruti perintah sang kakak untuk berbaring. Saat adik sedang berbaring sang kaka pun langsung menyembelih leher sang adik.
Bukan main terkejut si kakak melihat kucuran darah yang tak habis-habis dari leher si adik. Ia pun lari dan bersembunyi dibalik bukit. Namun malang, disana ia bertemu seekor serigala yangg kemudian memangsanya hingga mati.
Sang ayah yang mengetahui kejadian itu langsung mencari sang anak. Tetapi sepanjang perjalanan ia tak keunjung bertemu sang anak. Hingga akhirnya ia pun mati kehausan. Sementara sang istri atau wanita tersebut menanti kedatangan suaminya, karena tak kunjung datang ia pun memutuskan untuk mencari suaminya.
Saat mencari suami, anaknya sang bayi yang ia tinggal dirumah merangkak menuju periuk berisi air panas. Ditariknya periuk itu dan tumpahlah semua air panas menyiram sekujur tubuh mungilnya sampai kulit tubuhnya melepuh. Sang bayi pun tewas saat itu juga.
Sementara sang anak yang telah menikah dan tinggal di daerah lain, sangat shock ketika mendengar berita itu. Ia tak tahan dengan keadaan tersebut hingga akhirnya ia jatuh pingsan dan kemudian meninggal seketika. Kini wanita itu tinggal sebatang kara, semua orang yang dicintainya telah dianmbil kembali oleh Yang Kuasa.
Abu Hasan lantas bertanya, “Bagaimanakah kesabaranmu dalam menghadapi tubian musibah itu?”. Wanita itu menjawab, “Tiada seorangpun yang dapat membedakan antara sabar dan mengeluh, melainkan ia menemukan diantara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Sedangkan mengeluh sesungguhnya ia tidak mendapat ganti apapun kecuali sia-sia belaka”.
Cerita ini seakan mengembalikan kesadaran kita, bahwa musibah bukan hanya untuk dikeluhkan, ia harus menjadi sarana untuk bersabar. Karena, musibah dan kebahagiaan sebenarnya saling beriringan.
Menghadapi musibah dengan tersenyum bukanlah hal yang mudah. Hanya mereka yang paham arti musibah yang mampu melakukannya.